"Tiluling tiluliling tiluling tung ting". Handphone Jamal berdering memecah keheningan ditengah lamunannya. Di layar handphone Jamal tertera satu nama yang tak asing baginya, yaitu Ridho. Dengan wajah lesuh Jamalpun menerima panggilan dari Ridho.
"Hallow mi kum". Dengan suara alay
"Iya kum alam mal, (dengan suara yang lebih alay) Mal,
"Ih jijik dho, ngga usah alay si?!"
"Haha lo yang mulai duluan bego!!"
"Iya juga ya, kampret. (Lol)"
"Ada apa dho? Nelpon sore sore gini"
"Lo dimana?".
"gua dirumah dho, ada apa?".
"Udah jam lima ini, ayok liat pengumuman SBMPTN".
"Yaudah ayok, lo kerumah gue dulu, mumpung gue juga lagi ngga sibuk ini. Emang lo lagi dimana sekarang?".
"gue juga lagi dirumah. Yaudah gue otw kerumah lo sekarang. Tungguin ya".
"Iya buruan". "Tut tut tut tut".
Ridho menutup telepon tanpa mengucap salam
Pikiran Jamal saat ini sedang bertarung dengan hatinya. Dia berfikir kalo dia tidak mungkin bisa diterima di PTN yang ia inginkan mengingat bagaimana usahanya belajar yang apa adanya. Namun hatinya berkata lain. Hatinya sangat berharap dan sangat yakin kalau dia bisa diterima di PTN yang ia inginkan. Keoptimisannya ini didasari oleh usaha kerasnya berdo'a dan memohon kepada Yang Maha Kuasa. Yah, beginilah manusia. Terkadang mereka mendekatkan dirinya kepada Tuhan hanya karena sedang mempunyai keinginan. Begitupun dengan Jamal. Yang tadinya sehari semalam dia hanya sholat 3 kali yaitu dzuhur, maghrib dan isha. Sekarang dia sholat sehari semalam 13 kali. 5 kali sholat wajib dan 8 kali sholat sunah. Ditambah 2 jam untuk membaca Al-qur'an. Waktu yang seharusnya ia gunakan untuk belajar sekarang malah ia gunakan untuk berdoa dan memohon agar ia bisa diterima di PTN yang ia inginkan.
"Tok tok tok. Assalamu'alaikum". Suara ketukan pintu dan ucapan salam dari Ridho kembali menghentikan lamunan Jamal untuk yang kedua kalinya. Masih dengan wajah lesuh yang sama Jamal beranjak dari kursi dan kemudian membukakan pintu untuk Ridho.
"Ayok mal berangkat. udah engga sabar ni gue pengen liat pengumuman"
"Iya udah ayok langsung berangkat aja"
"Lo ngga mau ganti baju dulu?"
"Ah, cuma ke warnet ngapain ganti baju"
"Haha lo ngga tau ya kalo yang jaga warnet sekarang cewek"
"Yaudah gue ganti baju dulu bentar lo jangan kemana-mana". Tak lama kemudian Jamalpun keluar dari kamarnya.
"Emang bener ya sekarang yang jaga warnet cewek?"
"Iya, istrinya yang punya warnet".
"Kampret!!!"
"Hahaha yaudah deh ayo langsung berangkat".
Jamal dan Ridho pun akhirnya berangkat menuju warnet untuk melihat hasil pengumuman. Ridho adalah sahabat yang sangat berharga bagi Jamal. Saking berharganya, Jamal sampai lupa kalo dia hanyalah sahabat. Jamal menganggap Ridho seperti saudaranya sendiri. Tak hanya itu mereka juga sering saling meminjam celana dalam dan juga kaos kaki. Saking seringnya pinjam meminjam sampai sampai Jamal pernah meminjam celana dalam yang pernah ia pinjamkan ke Ridho (LOL).
Sekitar sepuluh menit berselang akhirnya mereka sampai juga di warnet. Tak menunggu lama kini mereka berdua sudah duduk dihadapan satu monitor yang sama.
" buruan mal buka situsnya!" Perintah jamal kepada ridho. Namun tiba-tiba Jamal menaruh jari telunjuknya tepat dibibir Ridho.
"Tunggu dulu, apa kamu yakin aku yang harus buka duluan?".
"Anjrit!! Gila, jangan maho lo. Jijik ih".
"Hahah iya iya becanda geh biar gak tegang".
Dengan sigap Jamal kemudian mengarahkan mouse dan membuka situsnya. Namun dengan tiba-tiba juga, Ridho menaruh tangannya dipunggung telapak tangan Jamal dan kemudian berkata lembut kepada Jamal.
"Kamuh yang buka duluan yach, ntar kalo tempatmu udah keliatan baru aku buka tempatku".
Dengan ekspresi kaget Jamalpun langsung berteriak dengan sedikit menghentakan badan.
"Aaaaanjir, mau ngapain lo!. Gila dasar mahok!. Jijik ih!!"
"Hahaha pembalasan memang selalu lebih menyedihkan". Ucap Ridho dengan wajah pemenang.
Setelah beberapa menit berselang akhirnya mereka berdua keluar dari warnet. Ridho berjalan dengan wajah yang suram dan lesuh sedangkan Jamal berjalan dengan wajah yang riang dan penuh kegembiraan. Dan kemudian sampailah mereka berdua diparkiran warnet.
"Cieee. Ridho bentar lagi jadi mahasiswa. Selamat yach". Ucap Jamal dengan nada bencong.
"Ah, pepek lo mal!! jangan mahok si!!".
"Hahaha. Lo kenapa si, keterima kok lesuh banget wajahnya?"
"Ya, gue sedih aja mal. Gue ngga yakin kalo gue siap kuliah dan tinggal berbeda atap dengan emak gue".
"Sialan!, lo itu udah 18 tahun bego!, masak iya lo ngga siap buat ngekost?!"
"Bukannya gitu mal, gue sih siap-siap aja mal jadi anak kost, tapi ntar siapa yang siap jadi guling gue kalo gue tidur?!". ucap Ridho dengan nada cepat dan histeris.
"Hahah pepek lo ah, udah-udah cuman guling aja dipermasalain. Itu mah urusan gampang yang penting sekarang kita pulang dulu dan memberitahukan berita gembira ini ke keluarga kita" ucap Jamal berusaha menenangkan. Akhirnya mereka berdua pun pulang. Sesampainya dirumah, Jamal langsung memberitahu kabar gembira kalau dia diterima kepada ayahnya. Namun saat mendengar berita dari Jamal sang ayah bukannya senang malah tampak sedih. Sampai malamnya Jamal diajak duduk berdua oleh sang ayah.
"Mal, papa mau ngomong"
"Iya pa, Jamal juga mau ngomong"
"Yaudah kamu duluan mal"
"Ah, papa aja dulu deh"
"Ih, papa dulu aja"
"Jamal dulu iich".
"Papa dulu loo"
"Jamal aja dulu". Kampret kok kayak jadi kayak anak abg lagi pedekate si batin Jamal.
"Yaudah deh pa. Jamal dulu. Jadi gini pa, aku kan keterima dan aku juga udah nurutin semua omongan papa. Nah sekarang aku mau nagih janji papa yang katanya mau beliin aku motor baru"
"Iya mal, papa pasti beliin motor baru. Tapi enggak sekarang."
"Yaudah iya pa engga papa yang penting di beliin ya".
"Udah cuman itu yang mau kamu omongin?"
"Iya pa."
"Sekarang gantian papa ya. Perusahaan papa bangkrut mal"
Suasana heniiing. Kemudian papa melanjutkan omongannya.
"Papa di PHK. Uang tabungan papa udah abis buat biaya kuliah kakak-kakak kamu. Dan papa mau nagih janji kamu yang katanya mau nurutin omongan papa. Keluarga kita udah bangkrut. Dan sisa tabungan papa cuma cukup buat biaya kakak-kakak kamu. Jadi tolong kamu berhenti dulu ya. Taun besok kalo kakak kamu udah wisuda, baru kamu lanjut lagi. Dan buat masalah motor papa pasti beliin. Tapi pake duit kamu kalo kamu udah sukses nanti. (Sound fx :Plaaaaak)." Ucap ayah Jamal panjang lebar.
Mendengar ucapan ayahnya Jamal langsung terdiam dan tak berani mengeluarkan kata-kata. Ayahnya adalah orang paling galak menurutnya. Dan jika dia tiba-tiba berubah menjadi baik seperti saat ini itu artinya dia sedang sangat serius. Kata-kata yang keluar dari ayah jamal adalah hal yang sangat absolut, sebuah perintah yang disamarkan menjadi permintaan. Jamal tahu benar akan hal ini. Ia tak berani melawan perintah ayahnya. Dan akhirnya dia hany mengangguk mengerti dan kemudian pergi keluar ke teras depan rumahnya. Dia menengadah keatas. Memandang jupiter dan uranus yang ada diangkasa. Memandang keindahan yang sangat luar biasa diangkasa. Ia sangat berharap suatu saat ia bisa menjadi seperti bintang. Tampak indah dan bisa dilihat oleh semua orang. Namun kenyataan memang selalu berbeda dengan harapan. Saat diri berkata IYA Tuhan berkata TIDAK. Semua rencana telah ia siapkan begitu ia sampai di Bandung nanti. Ada banyak sekali hal yang ingin ia lakukan disana. Namun apadaya, keabsolutan ucapan ayahnya memaksa Jamal untuk tetap tinggal dirumah. Belum selesai ia merasakan kebahagiaan karena bisa di terima di salah satu PTN dibandung sekarang palah datang sebuah bencana yang absurd. Sebuah polemik yang memaksa Jamal harus memilih, antara bahagua atau kecewa. Bahagia karena bisa kuliah di PTN yang ia inginkan, atau kecewa karena tidak bisa menyenangkan hati orang tuanya.
The next episode : NEKAT DAN DILAKNAT ini linknya http://deardiarycantik.blogspot.in/2015/10/nekat-dan-dilaknat.html
No comments:
Post a Comment