Saturday, October 17, 2015

Musik Seharusnya Mendidik

Selamat pagi para pembaca setia.
Dipagi yang amat terik ini gue pengen cerita dan berbagi keresahan gue soal musik. Khususnya musik di Indonesia.
Gue heran dan sedikit ngga habis fikir gitu. Bagaimana bisa seorang artis menciptakan lirik yang begitu kacaunya. Apa mereka menciptakan lirik hanya dengan mengandalkan intuisi mereka saja. Apa mereka menciptakan lirik hanya dengan perasaan mereka saja. Dan sadarkah kalaian para artis kalau semua lapisan masyarakat itu bisa mendengar semua lagu yang kalian ciptakan. Misal nih lirik lagu yang menurut gue kacau banget.

Aku gadis tapi bukan perawan....
Keperawananku sudah hilang... buka titik joss..

Tuh, keliatan kan? Bagaimana kualitas lirik lagu di Indonesia. Okelah, kalo yang denger lagu itu adalah para kimcil yang sering dimainin Heru sama Rizki tentu gue ngga bakal mempermasalahkan. Tapi bagaimana jadinya kalau yang denger lagu itu adalah Nayla?!. Nayla adalah adek sepupu gue yang masih berumur enam tahun dan dia masih kelas satu SD. Bagaimana jadinya kalau Nayla denger lagu itu dan kemudian ia termotivasi dengan lagu itu?!. Bagimana jadinya?!.
Bayangin aja, misalnya kalo lagi dikelas terus dia disuruh maju sama gurunya.
  "Hey Nayla, cepat kamu maju. Nyanyikan sebuah lagu yang paling sesuai dengan kepribadian kamu". Akhirnya Nayla pun maju. Dan karena saking termotivasinya dengan lagu gadis bukan perawan akhirnya dia bawain lagu itu didepan kelasnya. Ups, maksud gue didalem kelasnya.
"Aku gadis tapi bukan perawan...
Keperawananku sudah hilang..."

Belum selese Nayla nyanyi sampai lirik terakhir, ibu gurunya pasti udah nyuruh berenti.
"Hey, Nayla! Kenapa kamu nyanyi lagu itu?!"
"Kan kata ibu suruh nyanyi lagu yang sesuai dengan kepribadian?"
"Iya, tapi emang kamu udah engga perawan?!"
"Ngga tau bu, tapi kayaknya keren deh bu kalo udah ngga perawan. Kayak artis yang nyanyi lagu ini". Plaaaak...

Tuh kan, kebayang ngga kalo ilustrasi gue diatas benar-benar teejadi?!. Kalo emang bener-bener terjadi terus siapa yang harus disalahin?!. Nayla?!  Artisnya?! Emak Nayla?!. Ya bukanlah, yang harus disalahkan adalah bugurunya. Kenapa waktu itu yang disuruh maju adalah Nayla?!. Itulah kesalahan besar yang terjadi.

Oke,balik lagi ke cerita ilustrasi.Karena buguru sadar kalo ia telah salah memilih murid untuk bernyanyi, akhirnya dia berpindah ke lain hati (cie ileh).
"Kamu ini kalo nyanyi yag bener dong Nayla!. Nih liat temenmu mau nyanyi. Hey Rizka, cepat maju. Nyanyikan sebuah lagu yang paling pas dengan kepribadian kamu".
Tak menunggu lama, kini Rizka sudah berada didepan dan bersiap bernyanyi.

"Aku jalak bukan jablay....."
"Aku janda galak bukan janda lebay......".

"Hey hey hey, kenapa kamu nyanyi lagu itu Rizka?. Harusnya kamu nyanyi lagu balonku ada lima Rizka...."
"Sekarang saya udah ngga punya balon bu, udah meletus semua. Jadi sekarang kepribadian saya bukan di lagu itu bu"
"Iya iya, tapi kenapa kamu pilih kepribadian di lagu janda galak?!"
"Ya soalnya bagus bu lagunya. Besok kalo udah gede Rizka maunya jadi janda galak, bukan janda lebay".

Astaga!!! Itu ilustrasi gue mengenai pengaruh musik indonesia terhadap anak-anak. Dan apakah mungkin ilustrasi gue itu terjadi di kehidupan nyata?!. Sangat mungkin kawan?!. Didunia ini tidak ada tidak mungkin?!. Terus kalau beneran terjadi siapa yang harus disalahin?!. Rizka?! Nayla?! Emaknya?! Artisnya?!. Ya tetep aja yang salah itu bugurunya. Kenapa bu guru itu nyuruhnya anak cewek semua yang nyanyi. Padahal dia tau kalo semua anak cewek dikelas itu suka lagu dangdut...
Berlanjut ke ilustrasi ya. Sadar akan kesalahannya bu guru akhirnya kini menyuruh seorang anak laki-laki untuk maju dan bernyanyi.
"Hey, Ridho cepat maju. Cepat kamu nyanyi didepan Nayla dan Rizka. Contohin nyanyi yang baik itu kayak gimana"
"Oke bu"
"Ku pilih gadis atau pilih janda.a.a.aa.a.a.a. buka titik jos". (Sambil menunjuk kearah Nayla dan Rizka bergantian).

Oke sekian dari saya. Semoga menghibur.

No comments:

Post a Comment