Sunday, October 18, 2015

Nekat Dan Dilaknat

   Delapan hari sejak pengumuman SBMPTN telah beralalu. Jamal tampak begitu sedih. Ia merasa dunia ini tak adil. Kenapa pria sekece gue ngga bisa ngedapetin impian gue?! Dan kenapa pria seidiot Ridho selalu saja bisa ngedapetin apa yang dia pengenin?! Batin Jamal.
Ia selalu membandingkan kehidupannya dengan remaja-remaja disekitarnya. Yah, beginilah manusia. Selalu memandang ke atas dan tak pernah memandang keangkasa. Begitupun Jamal, saat Ridho mendapatkan predikat juara satu dikelas ia frustasi. Saat Ridho mendapatkan Anugrah siswa terbaik disekolahnya ia juga frustasi. Dan saat Ridho berhasil mendapatkan wanita pujaannya ia hampir bunuh diri.

   Di belakang rumah Jamal, ia tampak sedang memandangi lobang semut. Dia berfikir kenapa dulu ia tidak dilahirkan sebagai semut saja? Kenapa ia harus lahir sebagai manusia yang penuh napsu. Dan sampai akhirnya ia sadar kalau sebenarnya napsu semut lebih besar dari napsu manusia.
Sejenak ia ingin berubah menjadi semut, hidup bersama keluarga yang bahagia. Saling menyapa saat bertemu dijalan, dan saling berbagi rejeki dengan yang membutuhkan. Sempat ia berfikir ingin pergi ke dukun yang sakti agar ia bisa berubah jadi semut. Namun karena ia ingat pidato ayahnya yang berkata kalau kedukun itu musyrik akhirnya ia mengurungkan niatnya.

  Jamal berfikir keras sembari menatap lubang semut. Ia berfikir bagaimana caranya agar ia bisa kuliah di PTN yang ia inginkan. Sampai akhirnya ia mendapat sebuah inspirasi dari semut. Semut aja punya sodara dan minta bantuan ke sodaranya kalo lagi susah, kenapa gue engga aha. Tapi siapa ya saudara gue? Gumam jamal. Sampai akhirnya ia ingat kalau dia punya seorang paman yang kaya raya berkat sawit, bukan berkat kerja kerasnya. Kenapa gue engga minta tolong ama paman gue aja haha ide cemerlang muncul saat ia memandangi lubang semut. Dan tanpa menunggu lama ia langsung pergi mencari nomor telepon anak pamannya. Sampai ketemulah satu nama dikontak handphonnya, yaitu Wahid. Dengan sigap Jamal langsung menelpon Wahid. Dan dengan sigap pula Wahid langsung mengangkat telpon dari Jamal.

"Hallow mi kum" suara wahid dengan nada empat el empat ye

"Iya, kum alam" jawab Jamal dengan suara yang tak kalah empat el empat ye.

"Ada apa mal? Tumben lo nelpon? Pasti lagi ada butuh ya?"

"Hahaha engga kok, gue lagi ngga ada butuh ama elo, gue ada butuhnya ama bokap lo"

"Oh, yaudah bentar ya gue panggilin bokap gue dulu"

"Eh eh ya jangan bego, gue mau ngomong sama lo dulu"

"Naah kan, songong si"

"Haha becanda bego. Gini hid, kayaknya besok gue mau kerumah lo di Jambi. Lo bisa kan jemput gue diterminal".

"Hadeeh dasar kampret! Nelpon cuma kalo lagi ada butuhnya doang. Emang ada angin apa kok lo mau dateng ke Jambi?"

"Ya maen aja si, udah deh yang penting besok malam lo jemput gue diterminal ya?"

"Yaudah deh iya. Kabarin aja kalo besok udah nyampe diterminal".

"Oke, love you hid, emmuaach".

"Gila!!! Dasar maho absolut!!! Jijik iiih!!!" Tut tut tut... telpon terputus.

"Love you too Jamal (sambil nyium handphonyya)"
Kampret kok gue jadi mahok gini si gumam wahid dengan ekspresi kaget dan sedikit tersentak.

   Setelah selesai menelpon Wahid akhirnya sekarang Jamal langung bergegas untuk membereskan semua barang-barangnya. Semua ia siapkan. Mulai dari kaos lengen panjang, kaos lengen pendek, celana panjang, celana pendek, kolor panjang, kolor pendek, sarung panjang, sarung pendek, dll. Setelah semua barangnya ia kemasi. Dia langsung mengambil pena dan kertas. Ia menulis sebuah surat untuk keluarganya. Selesai menulis surat ia langsung bergegas ke terminal tanpa pikir panjang. Dengan mengandalkan uang saku yang didapat dari amplop di meja  ibunya, Jamal yakin sekali kalau ia pasti bisa sampai dirumah sang paman. Begitu sampai di terminal ia langsung memesan tiket dan kemudian siap untuk berangkat menuju rumah pamannya di Jambi.

  Jamal memang tidak yakin ini adalah keputusan yang benar. Tapi mau bagaimana lagi, dia sudah tidak tahan hidup dibawah keabsolutan perintah ayahnya. Ia tak tahan lagi menjadi remaja bermuka tua yang dianggap bencong. Ia ingin memberontak kepada dunia dan menunjukan taringnya ke alam raya. Iya, taring dari remaja bencong yang bermuka tua. Meskipun resikonya ia harus dilaknat karena telah melawan perintah ayahnya.

                   ★★★★★

Keesokan harinya setelah Jamal pergi, tampak dirumah Jamal kakaknya sedang menyapu halaman. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh. Karena biasanya di waktu yang sepagi ini Jamal selalu bangun pagi untuk menonton kakaknya menyapu. Dengan bermodalkan rasa keanehan tersebut,  Usi (kakak Jamal) pergi ke kamar Jamal untuk melihat kondisi sang adik. Ia mengetuk pintu kamar Jamal, namun tidak ada jawaban. Dia mengetuk lagi, namun juga tidak ada jawaban. Usi mulai panik. Dan sampai ketukan yang ketiga, masih tetap tidak ada jawaban. Usi mulai merasa khawatir. Ia kemudian pergi mencari ibunya untuk memberi tahu masalah ini. Sampai ditemukan lah sang ibu sedang duduk didepan kompor.

"Mah mah, Jamal mah" ucap Usi mulai panik.

"Jamal kenapa Us?, kalo ngomong yang bener dong"

"Usi ketok-ketok pintu Jamal ngga ada jawaban mah, ngga biasanya juga Jamal jam segini belum bangun"

"Haaaa?, kamu ketok pintu Jamal ngga ada jawaban?"

"Iya mah"

"Emang kamu ngasih pertanyaan?"

"Ih, bukan itu maksudnya mah. Maksud Usi itu Jamal minggat"

"Hah?! Apa?! Jamal minggat?! Kamu yakin?"

"Ya engga si mah, tapi harusnya dia minggat. Soalnya Usi ketok pintunya ngga ada jawaban"

"Nah, kamu kan ngga dapet jawaban, kok bisa tau kalo Jamal minggat?"

"Wangsit mah!. Ah, mama ribet deh. Udah ah ayok. Bantu Usi dobrak kamarnya aja"

"Yaudah ayok".

Setelah berhasil menemukan mamanya, Usi langsung pergi menuju kamar Jamal bersama sang ibu. Sesampainya di depan kamar Jamal, mereka mencoba untuk membuka pintu.

  "Ah, ngga bisa dibuka nih mah, dikunci" keluh Usi

"Yaudah kita dobrak aja"

"Yaudah mah ayo dobrak ya"

"Iya,"

"Satu, dua, tiga!" Ucap mereka bersamaan.

Dobrakan pertama tidak berhasil. Dobrakan kedua tidak berhasil juga. Dobrakan ketiga mereka kelelahan. Sampai kemudian sang ayah menghampiri mereka.
  "Hey, kalian ngapain disini?" Tanya sang ayah

  "Ini pah, Jamal diketok pintunya ngga ada jawaban"

"Ya emang ngetok pintu ngga menghasilkan jawaban geh" balas sang ayah

"Ih, maksud Usi pintu Jamal diketok kok jamalnya ngga jawab pah. Takutnya ada apa-apa sama Jamal"

"Nah, terus ngapa kalian dobrak?"

"Pintunya dikunci sayaaang" ucap sang ibu

"Ya kan,  ada kunci duplikatnya Mamah. Kuncinya juga kan disimpen sama Mama. Ih, gimana si" keluh sang ayah

"Oh iya juga ya" jawab sang ibu

Ibu Jamal pun akhirnya pergi untuk mencari kunci duplikat. Setelah menemukannya, sang ibu segera bergegas kembali ke posisi semula.

"Ini pah kuncinya pah"

"Yaudah mama aja yang buka"

"Ya udah deh" jawab sang ibu pasrah

Begitu dibuka pintunya mereka semua terkejut.  Ternyata Jamal tidak ada di kamar nya. Mereka bertiga pun kaget dengan kondisi ini. Usi melangkahkan kakinya ke arah kasur Jamal. Dilihatnya secarcik kertas tanpa dibungkus amplop. Dibacanya kertas itu, Isi mulai meneteskan air mata. Kemudian sang ibu menghampiri Usi. Ia ikut membaca kertas itu. Sang ibu pun tak sanggup menahan air matanya. Tangisnya lebih histeris dari Usi.

"Udah ma udah, jangan nangis lagi. Kita harus tenang buat nyari Jamal" ucap sang ayah menenangkan.

"Iya pah, tapi Jamal minggat pah"

"Ya kita pasti cari Jamal mah, kita juga pasti bakal nemuin Jamal. Udah dong jangan nangis lagi"

"Iya tapi jamal minggatnya sambil bawa duit diamplop pah. Padahal duit itu mau buat kondangan!!!". Sang ibu menangis lebih histeris.

Hahaha oke, sekian dulu.
The next chapter : AMUNISI PERANG

No comments:

Post a Comment